Tuesday, February 7, 2012

Makna Cinta Dalam Sajakku

Subhanallah alam dihampar,
alhamdulillah cipta kehidupan,
la ilaha illa allah selain-Nya terkalahkan,
allahu akbar seru sekalian alam.

Kalimat kembali teruntai dari seongok makhluk tiada tulang, yang terilhami oleh motor penggerak dan di- gerakkan ketika para insan berpikir mendalam. Hal yang sudah pasti dalam setiap kehidupan.  Kembali jemari ini kugerakkan untuk merunut para abjad yang terketik, ketika imaji bermunculan dan hinggapi kepalaku dengan berjuta warna, warna warna kehidupan tiap insan.

Tiada lain kuungkapkan hal-hal yang terus menggelitik naluri, untuk sebuah pengkajian akan makna sebuah kehidupan. Tertuntun oleh jari yang terus menari di atas lempeng abjad sebuah alat peradaban maju, aku terus merangkai para abjad untuk ikut menari bersama para jemari, dalam sajak yang tertuang dari sebuah imaji.

Mungkin untaian ini terlalu bertele-tele bagi kalian semua. Ya begitulah, dan bahkan mungkin kalian akan menyematkan pangkat pada baju kebesaranku tidak lulus SD. Karena mungkin dalam semua persangkaan, kalian merasa kalianlah profesor bidang bahasa sebab cercaan yang telah kalian ungkapkan kala penyematan  pangkat yang sangat 'mulia' dari kalian.

Akupun sama malasnya, untuk bertele-tele dalam hal yang tiada jelas ini. Mungkin, sekaranglah aku ingin sampaikan yang sedari tadi bak memaksa ingin segera dikeluarkan dari otakku.

CINTA atau C.I.N.T.A yang pernah kudengar dalam sebuah syair lagu di negeriku. Sepertinya, bagi para hawa adalah hal yang EMANG SESUATU YAH! (kata mereka). Aku pun terhenyak dengan rasa heran mengerubungiku. Ketika hal yang kukatakan di awal paragraph yang kalian anggap bertele-tele ini, adalah hal yang menurut kalian paling indah di dunia. Sampai, terlontar ungkapan dari mulut kalian 'Dunia ini Hanya Milik Kita Berdua'. Kalian pikir, selain kalian cuma terikat kontrak dan menyewa sehingga kalian bisa berbuat suka-suka gue dalam istilah kalian, dan kalian diwaktu yang bersamaan tengah dibuai CINTA?

Kalian pasti akan kembali memberi penyematan sebuah pangkat lagi untukku 'anak kecil yang tak paham CINTA". Beriring pula hahahihi dari mulut kalian yang terdengar melecehkan dan mengucilkanku. Terkadang, terlalu muak aku melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu bernama C.I.N.T.A itu. Mungkinkah jiwa ini terganggu atau tergelitik sesuatu yang membuat diri menjadi mati rasa? Hahahahaha... Terkadang aku ingin tertawa lepas melihat parodi terjun dari gedung yang tiada terkira tingginya, atau menikmati manisnya baygon cair, atau terbang diantara lantai dan atap rumah dengan tali melata di leher membentuk simpul yang indah. semua hanya karena gagal mendapatkan satu buah yang indah menurut mereka, C.I.N.T.A. Yah, silakan saja kalian menikmati 'indah' nya sesuatu yang kalian sebut C.I.N.T.A itu, dan ber'bahagia'lah dengan semua itu.

Tak hanya itu, sekedar untuk ungkapkan simpati saja, kata surga kau umbar disetiap waktu. Bahkan, setiap tempat dan setiap saat. Menjengahkan memang pada yang kalian buat itu. Aku pun kadang hampir tak segan, bila ingin menuang serbuk benci dalam patahan kata yang kalian bilang bertele-tele.

Kalian pasti akan menyematkan penghargaan lagi padaku, mati rasa sambil mengucapkan indahnya makian dari para makhluk tak bertulang kalian, yang sepertinya pedang pun kalah saing. Begitukah kalian memaknai kalimat C.I.N.T.A yang selalu kalian banggakan? Ini kusampaikan dengan kutuang sedikit bubuk muak dan larutan kesal.

No comments: