Sunday, March 25, 2012

Engkau Seperti Yahudi Secara Tak Langsung

0 comments
Bismillah alam semesta, kembali terketuk hati untuk melangkahkan jari di atas hamparan papan berabjad. Menghimpun para huruf  untuk berkumpul dalam rangkaian yang elok untuk dirunut. Ah, ternyata terkadang seperti yang dikata senior, "menulis itu sulit, tapi kalao sudah terbiasa dan terlatih." layaknya seorang  Ibu Helvy Tiana Rosa yang menganggap menulis itu berjuang seperti yang dipesankan I Gusti Ngurah Putu Wijaya kepadanya.

Waduh, kok ngomongnya jadi kemana-mana ya? Ya sudah, daripada nanti ngomong apa nyasar kemana, kita balik lagi ke pembahasan kita sebelumnya, okeh? Jadi gini saudaraku semua, lagi-lagi mengangkat masalah facebook. Kenapa ya kok facebook terus yang jadi masalah? Ya bukan masalah sih, cuma pemakaiannya saja yang keseringan kurang tepat, apalagi yang bilang kalo dia seorang muslim.

Coba kita lihat kepada saudara sesama muslim kita, terkadang mereka lebih suka mengeluh di dinding facebook atau yang lebih sering kita kenal sebagai wall. Nah, di wall tersebut, mereka mengeluhkan hal-hal yang kalo dilihat sih ga seberapa berat, contohnya? Wah banyak banget kalau disebut satu persatu, kayak perutnya mules lah, batere hp abis atau nge-drop lah, sampai GALAU-pun kena sebut juga (malahan jadi trend setting 2011 hehehe).

Nah, kalau yang mengherankan, banyak dari mereka yang sampai menganggap kalau facebook satu-satunya tempat buat curhat, dan menumpahkan apa yang terlintas di otak para penggunanya. Kalau penulis bilang, ya istilahnya yang "halus" seperti Allah Kemana Ya? Sama Facebook Kayaknya Lebih Bagusan Facebook. Hati Plong Dah Abis Nulis Status. Penulis hanya bisa berucap Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

Sekarang kalau masalah waktu, menurut pengamatan penulis (sok pengamat banget yah hehehe), terutama teman-teman penulis serta penulis sendiri (ngaku juga ga apa-apa kan?). Banyak dari mereka yang tersita waktunya di depan perangkat layar yang berisi papan tulisan dan terkadang menyuarakan alunan musik. apalagi, kalo sudah yang namanya chat, trus topik yang diobrolin asyik. Kayaknya dan sepertinya, sejam ataupun lebih serasa masih kurang. Apalagi, yang cowok chatnya sama lawan jenis (nah lo, ketahuan hehehe) dan yang dibicarain ga karuan, waduh jadi ga karuan deh ke depannya. penulis hanya bisa berucap lagi Na'udzubillah.

Ngebahas lagi masalah curhat di wall facebook, kalau penulis bilang seakan mereeka sedang meratap di tembok ratapan. Mau diakui atau tidak ya terserah, kalau dihubungkan ke penemu facebook sendiri dan kita juga sudah tahu kalau dia (Mark Zuckerberg) adalah seorang Yahudi (taat atau ga kan bukan urusan penulis, soalnya kenal aja ga sih apalagi salaman). Nah, kalau kita sampai ngeluh-ngeluh di wall facebook, kita sama saja seperti sedang meratap di depan tembok ratapan, tembok itu ada di dekat tempat Sang Kekasih Alam bersiap menemui Sang Pemilik Semesta dalam perjalanan yang hanya jadi bahan olok bagi yang tiada percaya padanya.

Yang lain dalam masalah ngeluh ke facebook, seolah-olah kita (pengguna facebook) berubah menjadi seorang anak manja, cengeng, sampai seperti  kurang perhatian dari orang tua. Nah, jadilah facebook media pelarian untuk mendapatkan perhatian daripada para manusia (ya, ini semua hasil pemikiran penulis sendiri). 

Sangat disayangkan memang, jikalau mercusuar kepala sudah mulai kehabisan voltase. Seolah ingin segera diistirahatkan. Penulis pun tiada kuasa menahan, hanya untaian terucap good midnight and have a nice day for Indonesian. Kita sambung masalah yang lain di lain kesempatan, yaitu ketika tangan siap untuk menekan jajaran papan abjad


Lewat tengah malam di negeri Musa